“SUWUNG”: POLA PENYELESAIAN MASALAH KAUM SUFI SUKU JAWA DI KOTA MALANG

Ninik Setiyowati

Abstract


Abstract — “Suwung” is a Javanesse term that describes an empty condition which has no form and is abstract. It implies emptiness with nuances of perfect self-control and true self-awareness with regard to divinity. Suwung, to the Sufi, is a spiritual experience called peak experience. Maslow defined peak experience as a condition when a person is feeling out of him-/herself mentally (Davis, 2003). Through this Suwung concept, humans can consciously solve the problems faced in life more wisely. Subject for the present research was grouped into three categories: (1) Sufis who have not met the basic needs (2) Sufis who meet the basic needs with struggle, (3) Sufis who meet the basic needs easily. The method used is the snowball sampling. Triangulation by a significant other was used for validation. The research method was qualitative phenomenology and utilizes symbolic interactionist analysis. As for the procedure, researchers conducted in-depth interviews to find the saturation values. The results of this study shows that the three groups of subjects were able to receive a problem with how to free themselves and essentially accepted the Lord in any condition. Narimo and gratitude circumstances be the basis for solving all subjects. In addition to that equation, there are three distinct patterns of thinking of a group of research subjects in solving a problem. First, humans solve problems encountered with resignation. Second, they resolve the problem by way of compromising with the facts. Third, they resolve the problem through the search for meaning of life.

 

Abstrak — “Suwung” merupakan istilah Jawa yang menggambarkan kondisi kosong, tidak mempunyai bentuk dan abstrak. Di dalamnya mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Suwung bagi kaum sufi merupakan sebuah pengalaman spiritual yang disebut peak experience. Peak experience menurut Maslow dijabarkan sebagai suatu kondisi saat seseorang secara mental merasa keluar dari dirinya sendiri (Davis, 2003). Melalui pemahaman Suwung ini, manusia dengan sadar dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan secara lebih bijaksana. Subjek penelitian ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu: (1) kelompok penganut paham sufi yang masih belum terpenuhinya kebutuhan dasar hidup, (2) kelompok penganut paham sufi yang memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan perjuangan, (3) kelompok penganut paham sufi yang memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan mudah. Metode yang dilakukan adalah snowball sampling. Sedangkan validitas dilakukan dengan metode triangulasi significant other. Metode penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi dengan proses analisis data menggunakan interaksionis simbolik. Dalam prosesnya, peneliti melakukan wawancara mendalam sampai menemukan data jenuh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga kelompok subjek mampu menerima suatu masalah dengan cara mengosongkan diri dan secara hakiki menerima Tuhan dalam kondisi apa pun. Keadaan Narimo dan syukur menjadi dasar penyelesaian masalah bagi seluruh subjek. Selain persamaan itu, ada tiga perbedaan pola berpikir dari kelompok subjek penelitian dalam memecahkan suatu masalah. Pertama, manusia memecahkan masalah yang dihadapi dengan kepasrahan. Kedua, menyelesaikan masalah dengan cara berkompromi dengan fakta. Ketiga, menyelesaikan masalah melalui pencarian makna akan hidup.


Keywords


Problem solving; Suwung; phenomenology; symbolic interactionist; Narimo; grateful; Penyelesaian masalah; Suwung; fenomenologi; interaksionis simbolik; Narimo; syukur

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24854/jpu22016-66

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2017 Ninik Setiyowati



View My Stats

This journal and its content licensed under
a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License

Creative Commons License